Subscribe via RSS FeedConnect on InstagramConnect on Google Plus

CERITA FOUNDER KOMUNITAS BERTEMU ALUMNI PLS

Filed in Berita Utama by on Oktober 18, 2018 0 Comments • views: 276

Malam itu di warung kopi Surabaya, tepatnya belakang kampus Universitas Negeri Surabaya daerah Lidah Wetan. Hampir menjadi kebiasaan sebelum melanjutkan perjalan pulang dari Malang ke Lombok, saya sempatkan untuk mampir di Surabaya. Untuk sekedar menyeduh kopi supaya tetap tersambung tali silaturahmi dengan beberapa saudaraku dari Lombok yang sedang study di Surabaya. Salah satunya Universitas Negeri Surabaya.




Suasana warung kopi dengan lampu-lampunya yang kuning memberikan candu untukku. Perbincangan kami cukup hangat waktu itu. Saya bersama Putra pemuda Lombok yang kebetulan satu kampus di Universitas Brawijaya Malang, saat itu sedang tertawa dan bercanda. Kemudian anak-anak Lombok yang study di Unesa mulai berdatangan meramaikan peradaban perkopian. Saya ingat betul saat itu ada 3 orang menyusul. Dan satu orang berasal dari Bojonegoro yang aku kenal karena dia suka ngopi disini juga. Jadi kami berbincang dengan 6 orang malam itu.

Tak lama kemudian si Lutfi teman asal Bojonegoro memperkenalkan temannya. Katanya temannya itu memiliki pemikiran yang sesuai dengan pandangan dan kegiatan kami. Dan berkenalanlah kita. Karena memang kita anak-anak yang suka nongkrong jadi susasana langsung cair. Dia biasa dipanggil Nyong, alumni  Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Unesa. Terus terang kami asing dengan jurusan tersebut. Dia pun menyadari dan langsung dijelaskan secara singkat apa itu PLS.

berarti komunitas termasuk PLS dong ?” tanyaku. Kemudian dia menjelaskan bahwasannya komunitas, pengabdian masyarakat, pelatihan, dan segala pendidikan diluar jalur pendidikan formal ya itu PLS. Pikirku ini sebuah kesempatan bagus untuk sharing dan berbagi ilmu. Karena kebetulan saya sedang mengembangkan komunitas bernama Komunitas Tanpa Nama (KTN). Komunitas ini bergerak dalam bidang sosial, pendidikan dan kesehatan, yang didirikan pada tahun 2015. Bisa juga dikatakan sebagai pemberdayaan pemuda di desaku. Karena memang anggota di komunitas kebanyakan para pemuda.

Kami berbincang cukup lama. Dia juga menjelaskan kondisi pendidikan didaerah terpencil. Dan saya pikir Indonesia memang membutuhkan Pendidikan Luar Sekolah. Apalagi dengan kondisi pendidikan yang ada di luar pulau jawa, banyak pendidikan formal yang aksesnya sangat sulit ditempuh. Dengan program-program PLS saya yakin akan sangat membantu dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Terlebih prinsip fleksibelitasnya, yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat sekitar. Itu sulit ditemui di jalur pendidikan formal dengan sistem pendidikan yang sangat ketat.

Mungkin karena background pendidikanku sosiologi saya memiliki prinsip hidup bahwa “ketika melihat orang tersenyum bahagia itu adalah titik kesempurnaan hidup“. Dan komitmen itu sudah saya mulai sejak semester 5. Kebetulan saya juga sebagai seorang pengajar di MAN 1 Mataram, jadi saya sering menyampaikan kepada peserta didik bahwasannya kita harus selalu peka dan peduli kepada setiap permasalahan yang ada disekitar kita. Contoh kecilnya kita mau untuk membantu orang dalam setiap kesempatan.

Prinsip lain untuk berkomunitas adalah “komunitas ini adalah milik semua, bukan milik saya ataupun dia. Jadi kita harus sama-sama merasa memiliki komunitas ini“. Prinsip tersebut sering saya sampaikan ke teman-teman komunitas. Semoga kami selalu memiliki semangat bersosial dalam waktu yang sangat lama. Dan selama lamanya.

Apalagi bulan kemarin Lombok sedang di uji oleh Yang Maha Kuasa dengan Gempa yang sering terjadi. Itu mengakibatkan 90 persen aktivitas di Lombok lumpuh. Salah satunya dibidang pendidikan. Beberapa daerah mengalami kerusakan materil dan membuat trauma berat pada masyarakat Lombok. Khususnya anak-anak.

Kami sebagai komunitas sosial mencoba sebisa mungkin membantu memulihlan kondisi Lombok pasca gempa. Saya bersama teman-teman juga melakukan kegiatan penggalan dana, pemeriksaan kesehataan dan trauma healing. Dengan kegiatan seperti itu semoga dapat sedikit membantu masyarakat. Kami mendapat masukan bagus dari Nyong untuk memulihkan pendidikan lewat jalur Pendidikan Nonformal. Dia menyarankan untuk membuat sanggar, taman bacaan masyarakat, program pengabdian masyarakat, pelatihan dsb. Dari situ muncul semangat baru dalam membangun masyarakat didaerah kami. Pertemuan dengan keilmuan PLS yang sangat menyenangkan. Semoga tetap terjalin komunikasi dan bisa bersama-sama dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Amiin.

Abdurrahman
Founder Komunitas Tanpa Nama
Alumni Sosiologi Universitas Brawijaya Malang
Angkatan 2012

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MENGAPDI DENGAN MEDIA SOSIAL

DAFTAR YUK: PELATIHAN PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL DAN WEB SITE IMADIKLUS 2018

Seluruh akomodasi peserta selama kegiatan pelatihan GRATIS*
KLIK DISINI BACA SELANGKAPNYA
close-link
DAFTAR YUK: PELATIHAN PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL DAN WEB SITE IMADIKLUS 2018
KLIK DAFTAR
close-image

MENGAPDI DENGAN MEDIA SOSIAL

MENGAPDI DENGAN MEDIA SOSIAL
Pelatihan Pengelolaan Media Sosial dan Web Imadiklus, akan di selenggarakan pada: