Subscribe via RSS FeedConnect on InstagramConnect on Google Plus

Diskusi PLS UM: Mahasiswa Bersatu Membangun Masyarakat

Filed in Artikel dan Opini, Kegiatan Kampus by on November 10, 2018 0 Comments • views: 63

Kamis, 01 November 2018 “Diskusi Publik dengan tema Urgensitas Masyarakat Sebagai Wadah Pengaktualisasian Diri Mahasiswa” oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Dengan Pemateri yang sangat menginspirasi Avin Nadhir CHI. M.CHT (Inisiatior Desa Ingrris Singosari), Lukman Hakim. F (Inisiator Sekolah Dolan) dan Trio Siswanto (alumni SM3T) dengan dipandu modearator Windy Kiswha Cahlendra S.Pd. Penyampaian dibagi menjadi tiga segmen. Segmen pertama penyampaian dari Bapak Alvin mengenai kemahasiswaan, pak Lukman mengenai kemasyarakatan dan yang terakhir mengenai wadah pengaktualisasian oleh Mas Trio. Banyak ilmu, pengalaman dan pesan menarik yang tersampaikan dalam proses diskusi. Semoga penulis & pembaca bisa memaknainya dengan baik serta mengamalkannnya didalam kehidupan nyata.




Do it now, Tidak ada jalan pintas untuk sukses, Kata pak Avin Nadhir Pendiri Indocita Foundation, Penggagas Desa Inggris Singosari-Malang. Belajar tidak pernah mengenal usia. Menjadi mahasiswa silahkan untuk memilih pola belajar sesuai dengan karakteristik yang dimiiki dan masing-masing orang tidak akan memiliki pola belajar yang sama. Sudah selayaknya pola fikir segera berpindah lebih dewasa daripada SMA. Mahasiswa sekarang kebanyakan bersifat hedonisme, yah selalu menginginkan sesuatu yang WOW dan sifatnya pragmatis alias instan. Jarang membaca namun kritikan dimana-mana, jarang diskusi dan selalu menutup diri. Namun itu semua tidak bisa dipukul rata. Hanya sebagian mahasiswa saja, tidak terkhusus untuk pembaca.

Menjadi mahasiswa harus membela masyarakat katanya, namun realitanya tetap harus dibuktikan lagi kebenaranya. Saat ini kebanyakan mahasiswa berorientasi pada IPK bagus tanpa memiliki jiwa kepekaan sosial yang memang saat ini dibutuhkan masyarakat.  Masyarakat sebagai wadah pengaktualisasian diri mahasiswa. Namun, tidak jarang antara mahasiswa dan masyarakat beranggapan bahwa sudah tercipta adanya batasan-batasan. Baik itu mahasiswa dipandang sebagai kaum elit, kaum intelektual dan lain sebagainya berdasar pada masing-masing perspektif yang berbeda, begitupula sebaliknya.

Masyarakat harus membuka diri dari “ide-ide gila” mahasiswa. Ucap pak Avin. Mahasiswa analis juga penting, namun aplikasinya di lapangan atau dimasyarakat itu jauh lebih dari penting. Bagaimana cara menggerakkan atau menyadarakan mahasiswa agar menyadari akan peran yang dimiliki? Bagaimana cara untuk memulainya? Suasana Diskusi publik sudah mulai hidup tatkala terlontar beberapa pertanyaan dari mahasiswa angkatan 2018, “Endan namanya”. Jika berkeinginan untuk mengajak teman ataupun saudara sadar akan peranannya sebagai seorang mahasiswa yang berjuang untuk kepentingan masyarakat, tetap dibutuhkan seorang penggerak. Nah, menjadi seorang penggerak tidak mahal dan bahkan tidak dibutuhkan biaya apapun itu. Cukup menjadi contoh yang baik bagi yang lain mulai dari cara berpakaian, etika dan tidak molor dalam masa studi tentunya. Jadi ada keseimbangan antara dunia aktivis & dunia akademis (Jelas Pak Avin).

Membahas mengenai pengaktualisasian diri mahasiswa, bagaimana cara untuk pengatualisasian? Setiap orang itu punya kelebihan, namun kelebihan tersebut tidak disadari. Misalnya manfaatkan peluang disekitar lingkungan kos maupun rumah. Menjadi guru les, guru ngaji dan lain sebagainya. “Bangunlah, bergeraklah membuat suatu gerakan sesuatu inovasi baru yang berdampak baik bagi lingkungan sekitar”. Jadilah khoirunnas ‘Anfauhum linnas (ucap pak Avin)

Wujud dari pengaktualisasian diri di masyarakat menurut pak Avin Nadhir yakni dengan usaha mendirikan Desa inggris Singosari yangdilatarbelakangi disekitar lingkungan banyak yang tidak bisa meneruskan ke jenjang kuliah dan mengumpulkan siswa-siswi SMA untuk belajar bersama mengenai bahasa inggris di Desa singosari. Tetap berpegang pada point diatas, pekalah terhaap lingkungan sekitarmu. Desa inggris ini berdiri sendiri alias mandiri, tidak ada campur tanaga dari pemerintah. Dalam proses pembelajaran, seringkali mendatangkan tenaga pendidik dari luar dengan tujuan untuk memberikan teknik-teknik cara mengajar yang baik dan benar.

Dalam dunia kemahasiswaan, banyak organisasi yang sudah diikuti oleh pak avin, seperti: HMJ, BEM, Pers, KSR/PMI, Lembaga Dakwah Kampus. Ikuti kompetensi yang sudah dimiliki, namun jangan sampai ikut-ikutan. Beberapa organisasi tersebut dirasa sudah mengarah pada pengaktualisasian diri pemateri untuk masyarakat. “Berlatih memanagement suatu organisasi membuat seseorang bisa memanagement diri dalam masyarakat” (terang pak Avin). Orang hebat itu orang yang mampu memahami dan mengenali dirinya sendiri. Kenali dirimu gali potensimu kemudian aktualisasiakn potensimu di lingkungan sekitarmu. Lakukan mulai sekarang, meskipun dimulai dari hal terkecil. Tuhan tidak pernah bermain dadu di alam semesta, artinya tidak ada sesuatu yang kebetulan di duniaini. Silahkan rubah dan mulai semuanya, untuk sukses juga tergantung pada niat awal berangkatnya. (tambah pak Avin).

Ada sekolah alternatif dari sekolah formal kok (ucap pak lukman) yang berfungsi sebagai subtitusi (pengganti), komplemen (pelengkap), suplemen (penambah) pendidikan formal,”Sekolah Dolan” namanya. Benar, inisiator sekolah dolan yang kuliah mengambil teknik itu beranggapan bahwasanya bisa mempelajari dan faham mengenai psikis manusia itu tidak mudah, karena dalam kesehariannya yang selalu membuat suatu bangunan yang notabenenya bangunan tersebut tidak bisa diajak berbicara selayaknya manusia. Tantangan sendiri bagi diri saya jika memang saya harus beralih profesi sebagai orang PLS. Saya kenal PLS juga ketika mendirikan sekolah dolan ini  (ucap Pak Lukman). Melalui sekolah dolan ini, Pak Lukman belajar menjadi pelayan masyarakat yang murni berdasar pada kebutuhan masyarakat. Masayarakat juga merespon baik akan berdirinya sekolah dolan, Mulailah peka terhadap kondisi, situasi dan urgensi yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Mengenai masyarakat, kita memang harus faham dengan nilai-nilai yang sedang masyarakat ikuti. Anggap saja kita sedang berada di kondisi masyarakat yang memang kekurangan SDA dari pasokan listrik, air bersih dan lain sebagaianya. Seperti yang sudah dialami oleh Trio (Alumni SM3T) yang sudah menghayati perannya hidup di Papua. Adaptasi akan budaya dimasyarakat/nilai-nilai kepercayaan yang dianut oleh masyarakat menjadi modal utama untuk bisa bertahan hidup (survive) di daerah yang benar-benar berbeda dengan kondisi di perkotaan. Harus diadakan Identifikasi kebutuhan dengan tujuan untuk  perencanaan program, sampai pada program yang berkelanjutan. SM3T dipergunakan pemateri yang kerap disapa Mas Trio  untuk wadah sebagai tempat pengaktualisaian diri dari ilmu yang sudah didapatkan elama menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Dengan mengajarkan cara sikat gigi yang baik benar, dan juga cara menjaga pola hidup yang sehat.

Diakhir acara, pemateri menyampaikan beberapa pesan yakni action, action, actio, action dan action (ucap pak Avin). Sedangkan dari pak lukman yakni, jangan pernah meremehkan atau melupakan hal terkecil, Action/aksilah dengan hal kecil itu, serta ikhlaskan bahwa dari hal kecil itu kamu bisa menjadi besar. Mas Trio Said, berdoalah, berkaryalah sesuai koridormu, tunjukan cinta dan aksi nyatamu.

Tulisan ini belom seleai layaknya perjuangkan kita terhadap kepentingan masyarakat yang tidak pernah boleh untuk usai. (Keilmuan & Penalaran Tim)

 

 

Tags:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *