Subscribe via RSS FeedConnect on InstagramConnect on Google Plus

Historia: Memproyeksikan Nasionalisme Anak Kos dari Dapur Pergerakan Gang Peneleh Van Soerabaja

Filed in Artikel dan Opini, Berita Utama by on Agustus 17, 2018 0 Comments • views: 54

Di masa penjajahan kolonial Belanda, Sukarno, Kartosuwiryo, dan Musso pernah menjalani kehidupan ‘indekost-nya’ di Gang Peneleh, Surabaya, Jawa Timur. Rumah milik tokoh Sarekat Islam yang masyhur tersebut berhasil menempa anak kosnya menjadi pemimpin dan pemikir ideologi-ideologi yang kemudian muncul di Hindia Belanda.




Khususnya, Koesno (nama kecil Soekarno) berhasil tumbuh menjadi ‘orator’ ulung dikemudian hari akibat dari kebiasaan ‘pendidikan nonformal-nya’ mengamati, menirukan, serta menemu kenali kembali pidato-pidato menggugah induk semangnya, Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Gambar 1.1 : Beranda Rumah H.O.S Tjokroaminoto

Koesno Sosrodihardjo lahir di Surabaya, 6 Juni 1901. Salah satu putra terbaik bangsa ini merupakan anak dari pasangan Soekemi Sosrodihardjo dan seorang perempuan berdarah Bali bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Koesno pernah mengenyam pendidikan insinyur di Technische Hoogeschol te Bandoeng atau sekarang dikenal sebagai Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).

Di Kampus Ganesha inilah, Koesno bertemu dan akhirnya menikah dengan istrinya Inggit Garnasih yang dikemudian hari menemani perjalanan dan perjuangan serta karir politiknya mulai dari pengasingan ke Ende hingga jaman dimana Koesno yang akrab Inggit sapa ‘Engkus’ mendekam dibalik jeruji Penjara Banceuy, Bandung.

Jika ditarik titik baliknya, anak-anak kos dari Gang Peneleh adalah tunas pejuang kemerdekaan yang tumbuh ditengah riuhnya kota Surabaya. Dari rumah kos-kosan di sebuah gang seperti ini munculah para anak muda yang penuh semangat berapi-api dan revolusioner. Mereka tidak sekadar menimba ilmu secara formal seperti yang dilakukan oleh Bung Karno di HBS, tetapi mereka juga menggali dan mengasah pengetahuan serta ketrampilannya melalui cara-cara pendidikan khas luar sekolah (read: Pendidikan Nonformal dan Informal ).

Mereka terbiasa melahap buku, berdiskusi sekaligus berdebat, mendatangi rapat-rapat politik, bergerak bersama rakyat dan tak lupa mereka ‘menggegam pena’, menulis menyuarakan kehendak rakyat. Meski, pada akhirnya dalam tatanan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, pada jiwa-jiwa muda itu terdapat nama yang akhirnya memilih jalan perjuangan yang berbeda. Mereka antara lain adalah Musso, Semaun, dan Kartosuwiryo.

Namun, dalam nuansa perayaan kemerdekaan Indonesia seperti kali ini, mari kita sejenak kembali merenungkan kemudian mengambil ‘saripati’ daripada kebaikan-kebaikan yang telah tertoreh dalam perjalanan dapur pergerakan di Gang Peneleh Surabaya. Khususnya yang menyangkut semangat patriotisme, nasionalisme, dan disiplin ilmu Pendidikan Luar Sekolah.

Mari kita pelajari bersama:

Butir Satu : Gang Peneleh Rumah Istimewa Pembentuk Kaum Inteligensia

“Seorang Pemimpin itu harus bisa mengenggam hati rakyatnya”. Demikianlah salah satu penggalan dialog dalam film Soekarno : Indonesia Merdeka.

Betul sekali, dalam penerjunan dilapangan seorang pendidik luar sekolah hendaknya mampu ‘merangkul’ serta ‘mendorong’ warga belajarnya untuk mampu dan mau bekerja sama demi terwujudnya sasaran dan capaian pendidikan. Baik itu dalam program berbentuk pendidikan kesetaraan, keaksaraan, atau pemberdayaan perempuan.

Butir Dua : Pendidikan Bukan Lagi Sekadar Transfer Pengetahuan

“Bapaknya menginginkan Soekarno tidak hanya belajar di Sekolah Londo ,HBS..”

Menapaki usia limabelas tahun, Sukarno muda dititipkan oleh ayahandanya untuk ‘berguru’ kepada Tjokroaminoto. Di rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII , Koesno kemudian digodog pada kawah candradimuka .

Dengan demikian, jika dilihat ulang pendidikan luar sekolah hadir dalam wujudnya yang dikemas dalam pola interaksi antara orang tua dengan anak. Disini telah terjadi pola-pola transmisi pengetahuan berupa sikap dan nilai melalui asuhan dan bimbingan.

Butir Tiga : Berawal Dari Sebuah Tanya Berakhir Dengan Diskusi

Dalam kesehariannya, Tjokro dapat dibilang sebagai bapak kos yang unik. Bagaimana tidak, dalam kesehariannya, Tjokro membiasakan diskusi di rumahnya. Meja makan ibarat ruang ‘apa dan bagaimana’. Sembari menyantap makanan, obrolan-obrolan mengalir dan sahut-sahutan pun terdengar. Sebagai seorang singa di podium, Tjokroaminoto banyak memberikan pelajaran dan kecakapan dalam organisasi, orasi, menulis, dan pentingnya pemikiran yang luas.

Hal ini sama kaitannya dengan seorang tenaga lulusan pendidikan luar sekolah, dimana ia diamanahi tanggung jawab sebagai seorang pendidik yang harus mau dan mampu mendidik masyarakat.

Butir Empat : Selain Diskusi Kita Harus Dekat Dengan Literasi

“Aku duduk didekatnya dan ia memberikan buku-buku kepadaku “kenang Soekarno .

Di luar diskusi, Tjokroaminoto juga membawa dan mengarahkan anak-anak muda yang tinggal dirumahnya untuk dekat dengan literasi. Di rumah tersebut, membaca dan menulis diposisikan sama pentingnya seperti kehadiran sahabat. Selain itu, untuk menopang keberhasilan pergerakan, Tjokroaminoto juga mendirikan media massa bernama ‘Oetoesan Hindia’.

Ya, buku dalam hal ini bisa dikaitkan dengan PLS berbentuk usaha pemberantasan buta aksara. Dengan melek aksara setidak-tidaknya kita telah mempunya dasar kecakapan kehidupan yang utama.

Butir Kelima : Gang Peneleh Adalah Universitas Politik Sekaligus Sekolah Kehidupan

Di tengah roda kehidupan yang terus maju dan berputar, pendidikan menjadi problema sekaligus hal urgent yang harus didapat seseorang agar memiliki kecakapan hidup.

Dicontohkan disini melalui rumah kos Tjokroaminoto bahwa beliau sadar betul bahwa pendidikan adalah penting. Melalui pendidikan yang ia berikan kepada anak kosnya, dapur nasionalisme pun mengeluarkan asapnya.

Sama seperti pendidikan luar sekolah yang hadir sebagai salah satu jalan untuk menempuh pendidikan dalam kerangka sekolah kehidupan.

Di kemerdekaan Indonesia yang sudah mencapai angka 73 tahun ini,kemerdekaan indonesia terproyeksi dalam sebuah era globalisasi .

Tentunya, tidak ada yang lebih bijak selain mengisi alam kemerdekaan dengan menjadi sebaik-baiknya manusia yang memanusiakan manusia sesuai dengan bidang masing-masing .

Dirgahayu Republik Indonesia ke 73!
Kerja Kita, Prestasi Bangsa!

“Bangsa itu adalah suatu persatuan perangai jang terdjadi dari persatuan hal-hal ichwal jang telah didjalani oleh rakjat itu
(Soekarno: Dibawah Bendera Revolusi Jilid 1)

Oleh:
Tentrem Restu Werdhani
Mahasiswi PLS 2017
FIP UNY

Tags: ,

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *