Subscribe via RSS FeedConnect on InstagramConnect on Google Plus

Membangun Ketahanan Nasional Melalui Ketahanan Keluarga

Filed in Artikel dan Opini, Tugas Kuliah by on Agustus 24, 2018 0 Comments • views: 139

Di Indonesia, pembangunan keluarga merupakan salah satu isu tematik dalam konteks pembangunan nasional khususnya dari segi pembangunan sosial. Pembangunan sosial tentu tidak bisa terlepas dari pentingnya peran keluarga sebagai salah satu aspek penting pranata sosial yang perlu diperhatikan.




Pembangunan nasional ini berakar pada aspek keluarga sebagai unit sosial terkecil di masyarakat. Keluarga sejahtera merupakan fondasi dari sebuah kekuatan dan keberlanjutan pembangunan suatu bangsa.

Pernikahan sejatinya tidak hanya sekedar menjalankan kehidupan berumah tangga, tapi juga tentang membangun ketahanan keluarga. Pada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera menyebutkan bahwa “Ketahanan keluarga berfungsi sebagai alat untuk mengukur seberapa jauh keluarga telah melaksanakan peranan, fungsi, tugas-tugas, dan tanggung jawabnya dalam mewujudkan kesejahteraan anggotanya.”

Selanjutnya, dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menyatakan bahwa upaya peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga perlu dipertimbangkan untuk mewujudkan pertumbuhan penduduk yang seimbang dan keluarga berkualitas.

Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 ketahanan keluarga diartikan sebagai kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, serta mengandung kemampuan fisk-material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri, dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin (BKKBN 1992).

Ketahanan keluarga merupakan konsep yang mengandung aspek multidimensi, di dalamnya ketahanan keluarga diindikasikan sebagai kecukupan dan kesinambungan akses terhadap pendapatan dan sumberdaya setidaknya untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk di dalamnya adalah kecukupan akses terhadap pangan, air bersih, pelayanan kesehatan, kesempatan pendidikan, perumahan, waktu untuk berpartisipasi di masyarakat, dan integrasi sosial.

Kenapa konsep Ketahanan Keluarga ini penting?

Upaya peningkatan ketahanan keluarga ini mampu mengurangi atau mengatasi berbagai masalah yang menghambat pembangunan nasional. Masalah tersebut berkaitan dengan fenomena yang marak pada saat ini seperti kekerasan pada rumah tangga, bully-ing, kriminalitas, tawuran, korupsi, ketidakdisiplinan, ketidakpedulian, kekerasan seksual, perceraian, penyimpangan seksual, penggangguran, ketidaksejahteraan, kemiskinan, kurang gizi, kasus kekerasan pada anak dan lain-lain. Masalah-masalah tersebut dapat diatasi dengan dimulai dari membangun ketahanan keluarga, mengingat keluarga adalah institusi pendidikan yang pertama dan utama. Ketahanan keluarga adalah pilar utama ketahanan nasional.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jabar alasan mengapa ketahanan keluarga itu penting, karena:

  1. Keluarga merupakan unit dasar masyarakat yang berperan penting dalam menghasilkan SDM yang berkualitas.
  2. Kapasitas keluarga mempunyai keberfungsian dan keberlangsungan masyarakat.
  3. Banyak masalah sosial yang terjadi berawal dari kegagalan/ketidakberfungsian keluarga sehingga menimbulkan berbagai implikasi sosial, ekonomi, dsbnya. Contoh: tawuran, kekerasan terhadap anak, seks bebas dan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja, dll.

Apa saja komponen Ketahanan Keluarga?

Menurut DP3AKB Provinsi Jabar, komponen ketahanan keluarga terdiri dari paling tidak 3 komponen,

  1. Ketahanan fisik-ekonomi

Ketahanan ini tentunya berkaitan dengan kemampuan anggota keluarga dalam memperoleh sumber daya ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

  1. Ketahanan sosial

Ketahanan ini merupakan kekuatan keluarga dalam penerapan nilai-nilai agama, pemeliharaan komunikasi yang efektif, memelihara ikatan dan komitmen, pembagian dan penerimaan peran, penetapan tujuan serta dorongan untuk maju, yang akan menjadi kekuatan dalam menghadapi masalah keluarga serta memiliki hubungan sosial yang positif

  1. Ketahanan psikologis

Ketahanan ini merupakan kemampuan dimana anggota keluarga mampu untuk mengelola emosinya sehingga menghasilkan konsep diri yang positif dan kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan dan pencapaian tugas perkembangan keluarga. Kemampuan mengelola emosi dan konsep diri yang baik menjadi kunci dalam menghadapi masalah-masalah keluarga yang bersifat non fisik (seperti masalah kesalahpahaman, konflik suami istri, dsb.

Di Jawa Barat, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) memiliki inovasi Program Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) sebagai upaya mendorong masyarakat Jawa Barat agar berkontribusi dalam membentuk keluarga maju, sejahtera, dan harmonis di Indonesia.

Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) ini merupakan kader pemberdayaan masyarakat (KPM) yang berasal dari masyarakat desa/kelurahan setempat yang memfasilitasi kegiatan pemberdayaan keluarga prasejahtera dan perempuan untuk meningkatkan kualitas hidupnya agar lebih baik. Memiliki tujuan utama yaitu menyatu-padukan pola pembinaan keluarga dan pemberdayaan perempuan yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup sejahtera lahiir dan batin yang melibatkan partisipasi masyarakat dan lembaga terkait dalam semua tingkatan.

Adanya motekar ini menjadi titik terang untuk mengatasi permasalahan-permasalahan sosial yang ada. Terutama yang berkaitan erat dengan keluarga. Karena, keluarga yang memiliki ketahanan akan menerima banyak dampak positif seperti keluarga berpeluang besar untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai (bahagia, harmonis, sejahtera bahkan berkualitas). Keluarga lebih mudah menghadapi kondisi atau situasi darurat. Keluarga akan lebih mudah beradaptasi terhadap berbagai perubahan situasi dan kondisi. Keluarga berkontribusi melahirkan SDM yang baik, generasi penerus bangsa yang menjadi sasaran pembangunan nasional. Keluarga memiliki kesempatan yang besar berkontribusi dalam membangun lingkungan sosial yang sehat dan harmonis hingga pada akhirnya keluarga mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.

Kita sebagai mahasiswa Pendidikan Masyarakat/Pendidikan Non Formal/Pendidikan Luar Sekolah sudah seharusnya memiliki perhatian khusus untuk turut serta dalam pembangunan ketahanan keluarga ini. Kontribusi melalui berbagai lini mulai dari penggagas program hingga terjun langsung sebagai fasilitator pendidikan keluarga berbasis masyarakat.

Ayo ambil peranmu!

Karena, pembangunan ketahanan keluarga merupakan fondasi dari pembangunan ketahanan nasional.

Oleh:
Hodijah Wulandari
Sarjana Pendidikan Masyarakat Universitas Pendidikan Indonesia
mail: hodijahwulan@gmail.com

Tags: ,

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *